Postingan

Kita hanya punya dua tangan

Gambar
                   Oleh: Ernawati Hamjah Dinamika kehidupan bagi masyarakat yang hidup di era digital memang semakin beragam. Ketika dahulu konsep diri hanya akan dipengaruhi oleh diri sendiri juga lingkungan sekitar seperti pertemanan dan keluarga, kini hal tersebut semakin pelik dengan ikut andilnya masyarakat global dan gelombang arus mayoritas yang begitu semarak ada di media sosial. Media sosial yang notabene adalah dunia maya ternyata punya efek begitu besar pada dunia nyata. Bahkan ada beberapa dari kita, seperti kedua orang tua saya, justru lebih percaya pada apa yang terjadi di dunia maya dibanding di dunia nyata, terbukti dari hoaks yang laris di mana-mana. Sebagai pengguna aktif media sosial, saya sendiri kerap luput pada konsep hidup yang saya samakan dengan fitur-fitur yang ada di dalam media sosial, seperti mengukur nilai eksistensi dan validasi dari fitur  likes  dan komentar. Ketika melihat beranda a...

Repetisi dan Remedi

Gambar
                Oleh: Ernawati Hamjah Sayapnya sudah terkembang tapi masih diam tak mampu terbang. Ingin pulang tapi sudah telanjur berada di dalam sarang; terkurung di keramaian pikiran mengeja kepastian yang tak kunjung dapat dipastikan; menelaah rumus-rumus kehidupan dengan bilangan yang begitu memusingkan. Jangan bilang-bilang kalau ini adalah konsekuensi sebuah pilihan. Sayangnya tidak ada yang mampu memberikan garansi atas pilihan-pilihan yang pasti sangsi. Benar menjadi relatif membawa diri pada pemikiran-pemikiran yang manipulatif, menghamba kepada sang waktu bertekuk lutut pada yang sudah berlalu. Menyesal lagi, berandai-andai bisa kembali—sebuah repetisi dan remedi. Seseorang bersembunyi di saku baju dengan sepasang sepatu tergeletak di depan pintu. Pintu masuk di kepala yang tidak dijaga oleh siapa-siapa, apa-apanya hilir mudik tak kenal waktu. Dia pernah bertaruh walau hanya separuh tanpa sedikit pun tebersit keluh. Lalu ki...

Pelukan Ibu Adalah Rumah Yang Abadi di Dada

Gambar
Pelukan Ibu Adalah Rumah Dunia ini begitu kejam, Bu. Begitu juga dengan realitanya. Aku sering kali terombang-ambing dalam kebimbangan soal ke mana harus menambatkan tujuan. Langkahku sudah lelah berjalan tak tentu arah, tersesat dalam belantara harapan dan kenyataan yang terkadang tak sejalan. Hidup ini rumit, Bu. Begitu juga dengan peraturan di dalamnya. Aku harus memiliki harta untuk dibilang sukses; harus berpendidikan agar mendapat kehormatan; harus berprestasi agar dipuji. Serta banyak lagi aturan dalam hidup ini yang rasanya mencekik sekali. Terkadang aku berpikir mengapa aku harus dilahirkan ke dunia? Aku nyaman dalam pelukmu yang hangat dan terlindung dari segala yang jahat. Bu, aku ingin tetap di sini saja, duduk bersamamu dan menghabiskan sepenggal sagu tore dan teh manis . Aku tidak ingin keluar dari kenyamanan yang selalu kau sediakan, enggan rasanya mencari kenyamanan lain yang belum tentu akan kutemukan. Tapi, Bu, kau bilang aku harus pergi sejauh-jauhnya, me...

Apresiasi diri sebagai bentuk syukur

Gambar
              Oleh: Ernawati Hamjah Suatu hari, saya sebentar merenung, “untuk apa saya menjawab di dunia ini?”. Satu kalimat pertanyaan yang menjadi awal dari langkah menapaki hidup itu sendiri. Terkadang, kita tidak sadar bahwa kita punya peran penting di dunia ini. Masing-masing punya perannya masing-masing. Bukan berarti kita hanya hidup di dunia ini. Hanya lahir, tumbuh dan besar menjadi remaja, bersekolah, kemudia dewasa dan bekerja, lalu menikah, memiliki anak dan kemudian memiliki keluarga kecil lalu hidup bahagia selamanya. Hidup menyenangkan kita lupa sejatinya hidup ini bukan hanya tentang bahagia dan tidak hanya tentang melakukan rutinitas. Kita lupa ada sesuatu yang mungkin ingin diundang Sang Pencipta untuk kita. Sifat egois yang diberikan oleh manusia mengeluarkan mata hati seorang manusia. Ambisi yang menggebu, meminta duniawi yang harus terpenuhi hingga nafsu masing-masing individu te...

Untuk Para Mahasiswa, Lemparkan Almamatermu Jika Sikap Kritis Menumpul.

Gambar
                 Penulis: Ernawati Hamjah Mahasiswa sejatinya sebagai agent of change, karena dari mereka lah perubahan menuju arah kebaikan terjadi. Siapapun presidennya harus tetap di kritisi, setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dan  melenceng  harus di luruskan. Karena pemerintah  itu digaji dan menggunakan fasilitas rakyat yang kalian keluarkan. Jangan menunggu untuk di domplengi, jangan mudah di tutup oleh fasilitas fasilitas untuk membungkam dan materi untuk berhenti bersuara. Bergeraklah dengan biaya swadaya yang kalian miliki, Ingat kemiskinan di masa new normal tetap menghantui masyarakat Indonesia. Bersuara lah sekeras kerasnya  karena dengan suara kalian banyak warga yang tidak paham politik bisa tertolong. Masalah di negara berkembang selalu sama, yang mana para pejabat selalu lebih kaya di banding rakyatnya. Tugas para mahasiswa sebagai penolong masyarakat yang tertindas. Tidak perlu menjadi dewa untu...

Aku Dan Titik Nol

Gambar
                oleh: Ernawati Hamjah Tekad mawas diri demi terjaga dari jurang merupakan upaya penyelematan identitas sebagai mahluk yang cenderung terkuasa kekalutan. Ada bahasan yang kerap kali menjadi topik pembicaraan dan menimbulkan polemik kalangan masyarakat , stigma Virginitas yang dilekatkan Pada perempuan merupakan amanah tertinggi dalam pencapaian puncak penjagaan atas dirinya. kehidupan dan lingkungan sosial yang kompleks menjadi tantangan sendiri untuk kita semua, terkhusus yang menjadi korban menjadi pusat perhatian dan buah bibir ditengah masyarakat, terlebih lagi ada yang kerap mempertanyakan kepada mereka hal itu, namun yang menjadi pertanyaan apakah memang virginitas menjadi indikator puncak sebelum memulai sesuatu hubungan.. ? Sampai kapan kenyataan ini menjadi momok di tangah masyarakat, walaupun pada dasarnya dimasukkan dalam kriteria yang tak diagungkan tidak berarti sudah tertutup ruang bagi mereka untuk menjadi...

Cukup Menjadi Baik

Gambar
            Oleh : Ernawati Hamjah       Picture: Ninna Rasni Entah mengapa saat ini aku berprasangka, bahwa kebanyakan menjadi baik adalah karena sebuah tuntutan, bukan sebuah kesadaran. Terlebih untuk jadi yang terbaik. Padahal kebaikan sudah ditanamkan sedari kecil dulu. Lalu mengapa sekarang justru memudar? Seakan kebaikan adalah sebuah keharusan bukan suatu apa adanya. Ego, entah mengapa menjadi biang keladi yang sulit ditaklukkan, dapat membuat hal kecil menjadi sebuah perlombaan tidak menyehatkan. Aku paham betul bahwa kita memiliki banyak harapan dan keinginan, dituntut ini-itu dengan sekian ekspektasi makhluk lain. Lalu berharap dapat mencapai pengakuan, yang semoga tidak diaku-akukan. Kita hidup juga bukan untuk diri sendiri. Kita hidup berdampingan, bahkan memiliki sebuah tanggungan dan tanggung jawab. Tidak sepenuhnya kita bisa sesuka hati, karena masih banyak hati yang perlu dipedulikan secukupnya. Jadi harus belajar ...