Apresiasi diri sebagai bentuk syukur
Oleh: Ernawati Hamjah
Suatu hari, saya sebentar merenung, “untuk apa saya menjawab di dunia ini?”. Satu kalimat pertanyaan yang menjadi awal dari langkah menapaki hidup itu sendiri. Terkadang, kita tidak sadar bahwa kita punya peran penting di dunia ini. Masing-masing punya perannya masing-masing. Bukan berarti kita hanya hidup di dunia ini. Hanya lahir, tumbuh dan besar menjadi remaja, bersekolah, kemudia dewasa dan bekerja, lalu menikah, memiliki anak dan kemudian memiliki keluarga kecil lalu hidup bahagia selamanya. Hidup menyenangkan kita lupa sejatinya hidup ini bukan hanya tentang bahagia dan tidak hanya tentang melakukan rutinitas. Kita lupa ada sesuatu yang mungkin ingin diundang Sang Pencipta untuk kita.
Sifat egois yang diberikan oleh manusia mengeluarkan mata hati seorang manusia. Ambisi yang menggebu, meminta duniawi yang harus terpenuhi hingga nafsu masing-masing individu terhadap segala sesuatu yang membuat manusia lupa untuk berbenah diri dan mengapresiasi juga memiliki rasa bersyukurnya. Dulu saya tidak pernah punya kemampuan untuk menantang bepergian dengan kendaraan umum. Saya sering bersungut-sungut kompilasi saya diharuskan selesai agar lebih mandiri. Namun, apa yang terjadi kompilasi saya dapat dilakukan? Saya lupa untuk mengatakan terima kasih kepada tubuh dan pikiran saya sendiri. Saya lupa untuk bersyukur. Kenapa
Terkadang, hal kecil membuat kita sebagai manusia tidak memiliki hal tersebut untuk disyukuri. Kita dapat melakukan hal ini hal yang lumrah dan wajib terjadi. Haruskah kita minta tolong? Jika tidak ada tubuh dan pikiran saya yang dapat diajak kompromi mungkin saya tidak dapat dilakukan dan menjadi manja. Bentuk apresiasi diri sebagai rasa bersyukur pun dilakukan. Bagaimana hal ini akan membawa kita mengingat Sang Pencipta yang luar biasa. Jika tidak ada Dia yang Maha Pemberi dan bermurah hati memberikan kekuatan dan kesehatan untuk tubuh dan pikiran saya, saya yakin tubuh dan pikiran pun tak dapat diajak kompromi.
Itu sebabnya kita harus tetap bersyukur. Energi positif yang datang sangat berarti dan membantu kita manusia di muka bumi ini. Kita dapat menjadi pribadi yang terus bersemangat dan positif. Disitulah saya berfikir dapat menemukan jalan yang menuntun saya sekiranya dapat menjadi pribadi yang mengenal diri saya sendiri dan mulai mempertanyakan “untuk apa saya mengkaji di dunia ini?”. Tuhan tidak pernah menciptakan kita hanya untuk mencoba hidup, tetapi lebih dari itu. Mungkin bisa menjadi sesuatu yang besar suatu saat nanti. Kita dapat ditugaskan menjadi pemimpin seperti menjadi presiden atau bahkan direktur di sebuah perusahaan atau mungkin menjadi tenaga pendidik dan sebagainya. Yang jelas, setiap profesi yang dijalani dapat bermanfaat bagi banyak orang di dunia ini. Itu sebabnya jangan sekiranya menjadi hamba uang, karena materi adalah bonus. Tapi makna hidup lebih banyak diutamakan. Apakah kita dapat berguna untuk orang lain?
Terkadang hidup terkesan sangat mudah kompilasi kita dapat meraih seuatu yang kita inginkan sesuai dengan rencana hidup yang kita rencanakan sendiri. Ada kebanggaan dan kebahagiaan khusus yang membuat manusia kadang-kadang lupa untuk senang terima kasih atau bersyukur untuk Penciptanya. Ketika tiba-tiba diperhadapkan dengan masalah sulit, manusia dapat ditolak, merasa sulit untuk menyalahkan Tuhannya. Sering gagal menurut saya adalah pembelajaran. Hidup tidak memberikan kesenangan setiap saat. Selalu ada kekurangan diatasi. Gagal dalam mencapai sesuatu yang pernah dialami manusia dengan porsi dan waktu yang berbeda. Tergantung manusia mana yang dapat melihat arti dari itu dan mau percaya apa yang lebih besar. Pokoknya, Lebih dari ekspektasi membuat kita sakit kompilasi tidak layak. Namun, bukankah di dalam hidup ini kita harus tetap bersyukur? Bagaimana mengatasi masalah yang harus kita bahas dan berbicara kita rasa sangat bersyukur kompilasi saat nanti kita dapat mencapainya?
Apresiasi diri sebagai bentuk bersyukur itu penting. Kita manusia, makhluk paling mulia dari yang lain. Diberikan kuasa, akal dan pikiran. Apa pun yang ditaburgunakan.
Setiap kali berpesan, bersyukurlah setiap waktu.