JANJI

Oleh: Ernawati Hamjah


Janji adalah salah satu komponen rapuh yang menyusun entah berapa banyak fondasi hubungan antarmanusia dalam sejarah. Mungkin atas nama janji, kamu memilih untuk tetap datang. Atas nama janji, kamu mantapkan hatimu menunggu. Atas nama janji pula, kamu mencoba untuk setidaknya mampu bertahan.

Janji bisa jadi satu alasan paling ampuh dari sekian ribu alasan yang kamu punya untuk membenci. Kamu benci ketika mereka patahkan janjimu. Bagimu, janji itu hampir-hampir seperti sekeping bagian hati. Kamu biarkan ia tumbuh, menjadi satu bagian utuh dari ruang-ruang hatimu yang lain. Dan ketika janji itu diingkari–rasanya seperti satu cabang dari ranting yang telah kamu biarkan tumbuh itu patah, jatuh, hingga akhirnya mati.

Kamu mengenang mereka-mereka yang mematahkan rantingmu. Kamu hafal persis di mana letak patahannya, bahkan, meskipun kamu memohon untuk lupa, kamu tetap ingat ke mana kamu menyapu sisa-sisa kepingannya.

Kamu mengutuk mereka yang membiarkan kamu berjalan nyaris oleng, dengan luka patahan di mana-mana,

tanpa sedikit pun kesadaran untuk juga mengingat kepada siapa saja kamu berutang janji; siapa saja yang turut membiarkan bercabang-cabang ranting liarnya kamu patahkan setelah tumbuh sedemikian rupa,

tanpa sedikit pun keinginan untuk melihat mereka yang hilir mudik sempoyongan dengan cedera yang sama,

tanpa sedikit pun kerendahan hati untuk mengakui, bahwa dirimu hanya manusia, dan sejatinya, beberapa luka kamu yang ciptakan sendiri.

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi diri sebagai bentuk syukur

Repetisi dan Remedi

Aku Dan Titik Nol