Membumikan Bumi, Memanusiakan Manusia
Sudah hari ke berapa ini? Jemariku lelah menghitung ke sekian entah. Aku menapaki jalan menuju bukit teratas. Berupaya menghirup udara segar dan memandangi langit pagi nan biru. Matahari menyapu wajahku, dengan lembut ia hembuskan angin, mengucap selamat pagi. Hari ini tak seperti biasanya, yang biasa kulihat dulu hanya penat dan hiruk piruk kota. Gedung menjulang seakan berupaya mengalahkan agungnya pasak-pasak bumi, dengan congkak mengepulkan asap dan oli ke langit kita, pun pada subur tanah yang selama ini rela kita pijak.
Lantas terbangun pula sadarku, bahwasanya ini memang yang dibutuhkan oleh bumi kita tercinta; sebuah jeda dan kelapangan yang telah lama didamba. Langit biru Sang Pencipta, murni terlukis sempurna seumpama penciptanya, tanpa tercemar oleh kuas kelabu manusia yang angkuh juga dungu. Udara yang disuguh semesta raya, jernih terasa, tanpa campur tangan asap pabrik yang mencekik napas. Suara alam yang merdu, mendayu relung sukmaku, tanpa terusik oleh pekik mesin yang menderu. Bumi butuh beristirahat, setelah sekian lama menopang gedung demi gedung serta jalanan yang diaspal rata yang menutupi pori-pori tanahnya untuk bernapas. Bumi butuh waktu untuk menyembuhkan luka dirinya sendiri, yang disebabkan oleh kita, tamu-tamunya yang tak tahu diri.
Diamnya manusia dalam gundah dan ketersembunyian saat ini menyadarkan kita akan banyak hal. Ia mengajarkan kita untuk menghargai pertemuan dan perjumpaan selagi sempat, melakukan apa yang terlewat tatkala kita semua masih bebas merdeka, berkumpul dengan terkasih dan keluarga, serta yang paling utama, bagaimana Tuhan menyelipkan kerinduan-Nya pada kita, hamba-Nya yang acap kali terbutakan oleh kesibukan dunia dan peribadatan yang dimegahkan. Bahwa Tuhan tidak hanya ditemukan dari ritual dan perjamuan saja, tetapi dapat pula ditemui dalam diri kita, dalam tenang hati dan kesendirian yang lama terabaikan percuma.
Di sela-sela pandemi ini, yang akhirnya tidak tahu pasti, Tuhan mengajarkan kita untuk melabuh harap pada Ilahi. Sekali lagi, jika suatu saat kita diampuni dan diizinkan terbebas kembali, kita harus menjadi makhluk yang bijak bestari lebih dari saat ini. Sebab kitalah yang diberi amanat oleh-Nya, untuk menjaga alam raya dan melestarikan semesta. Jika serakah masih saja diutamakan, dan sabar Tuhan sirna, maka habislah sudah. Musnah kesempatan kita untuk bertemu, berjamu, bersatu, juga hidup seperti sediakala.