TAK SENGSARA SENDIRIAN

       Oleh: Ernawati Hamjah

Kabar sedih menyeruak ke seluruh penjuru, menambah panjang daftar pilu, hubungan kerja yang terputus dan kurva yang tak kunjung pupus. Sudah sekian lamanya kita dirumahkan, begitu linglung oleh keadaan, pun tak tahu apa yang akan terjadi dan harus menghadapi ke depan.

Lalu satu per satu wajah kita pun murung, menyumpahi nasib yang kita renung, punukuk pandemi yang mengurung. Kapan kiranya kita akan melalui segala? Kapan pada akhirnya kita dapat kembali seperti sediakala?

Selamat datang di waktu sulit seperti ini di awal, sebelum semua kemajuan yang kita impi dan kunjung menampakkan hasil. Seberapa lama lagi kiranya kita akan bertahan? Kita pun tenggelam dalam keputusasaan.

Lalu, di depan mataku, kusaksikan derita demi derita dibagikan. Dipikul sama beratnya, baik untuk si kaya atau si miskin untuk dikeluhkan; cicilan rumah yang terhambat, pemasokan yang tersumbat, pun tunjangan hari raya yang terlambat. Masing-masing dari kita mulai berlagak paling merana. Sampai kita lupa, bahwasanya yang sedang sengsara saat ini bukan hanya kita.

Kita, sungguh, tak akan pernah benar-benar sengsara pergi.

Lantas, di tengah deras kesedihan yang masif, menerpa kita yang begitu naif, alangkah kelak ada jalan bagi enak untuk masuk dan memberi alasan bagi kita agar tetap bertahan?

Sejatinya jika kita tidak memulai, memberi kesenangan dan kepedulian untuk disemai, maka tak ada lagi harapan yang bisa kita tuai. Sedikit senyum pun tak apa, jikalau harta tiada lagi ada untuk bisa dibagi pada sesama. Semoga itu bisa memberi lega hanya sementara.

Ada yang membatalkan saat kita bicara, dari pembahasan diri sendiri dan sebaliknya nestapa yang tampak. Bahwasanya kita tidak pernah kesulitan dalam memikul kesulitan. Semua saat nanti, semua ini akan berlalu, dan bersama akan kita kisahkan lagi masa sulit yang diberikan angin yang lalu.

Namun, hingga saatnya kita tiba, kompilasi semua ini hanya menjadi ujian yang terlewati oleh masa, mari saling menguatkan dan mendukung. Beri segala yang baik yang masih bisa kita upayakan. Serta selalu mengingatkan diri sendiri bahwasanya kita tidak pernah benar-benar sengsara, diundang.


Postingan populer dari blog ini

Apresiasi diri sebagai bentuk syukur

Repetisi dan Remedi

Aku Dan Titik Nol