Alokasi Akseptasi
Perihal sudut pandang yang terlalu ditekuni,
Hingga melupa tentang sudut lain yang patut diberi apresiasi.
Maha benar hati yang berangan-angan,Maha rapuh hati yang tak sejalan dengan apa yang dicita-citakan.
Perjalanan panjang tak jengah menanti,Begitu pula duri tajam yang siaga menusuk kaki.
Menghitung hari-hari yang silih berganti,Meredup pula langit yang diharap berpelangi.
Jatuh acap kali direnungi, berbelit hati yang tak kunjung terobati;
Renungan terulang dari kehilangan ke kehilangan yang mengiringi,
Penggalan cerita perihal kekosongan pada tiap langkah yang terhenti,
Tertegun kala ragu datang mengintervensi. Manakala sibuk mencari, lalu tak ingat bahwa diri adalah sang arti,Coba sekali waktu berhenti.
Bawa benak singgah pada zona lain dan ilhami,
patah bersanding tumbuh
Sakit berangsur sembuh
Duka berganti suka
Nanar menanti binar
Tolak lupa akan fana,
sebab pasti ada makna pada setiap nyata.
Kesampingkan pula jera akan rapalan doa,
agar kelak harapan dan kenyataan akhirnya bersenggama.
Serta cukup percaya–kelebat kegagalan boleh jadi navigasi menuju dominan kebanggaan dalam bentang realita.
Sedikit pengingat agar tak berserah pasrah lewati lembah–bahwa jatuh, letih, gagal memang sudah sewajarnya dirasa.
Namun, kenang pula kelahiran sebuah tawa dalam banyak perjalanan singkat, juga jangan lupa beri apresiasi pada diri–karena telah berjuang lewati proses pembentukan hingga kaki senantiasa menopang dan bertahan melawan sekat.