Bahagia Yang Cukup Atau Bahagia Yang Menuntut


             Oleh: Ernawati Hamjah

Seringnya, kita tidak menyadari jika sesuatu yang bisa membuat kita bahagia adalah dengan merasa cukup. Bahwa untuk bahagia terkadang lewat sesederhana menanti hujan yang datang esok hari atau dengan segelas kopi yang dibuatkan ibu setiap pagi. Selama ini, bahagia dikemas dalam bentuk materi dan segala hal yang dengan mudah bisa kita beli. Namun kadang, kenyataan sering kali membangunkan kita dari sebuah keadaan yang sebenarnya tidak memposisikan kita untuk lebih bahagia lagi. Kita memaksa diri kita sendiri terus merasa lelah demi bahagia yang nantinya akan kita dapat, tapi kembali lagi, kita melupakan hal-hal sederhana yang sebenarnya bisa kita dapat tanpa perlu merasa lelah, tanpa perlu merasa keberatan.

Seperti yang terjadi akhir-akhir ini, kita sebut saja keadaan yang sedang menimpa kita akhir-akhir ini musibah. Tetapi di balik itu semua, kita diberkahi dengan kebersamaan yang tak ternilai harganya. Semua hal akan terasa lebih berharga jika kita selalu menerima dan selalu merasa cukup atas diri kita, atas semua hal yang menimpa kita, atas segala macam cobaan serta hikmah yang terjadi di balik itu semua. Tuhan selalu memberikan bahagia yang cukup untuk selalu kita nikmati.

Perihal untuk bisa merasa cukup, memang tidak mudah untuk kita lakukan. Sebab kita adalah manusia yang hakikatnya tak pernah merasa sudah. Tetapi jika bahagia selalu kita ukur dari hal-hal besar yang rasanya sulit kita dapatkan, sampai akhirnya kita lelah mencari cara untuk menemukannya lalu hal-hal sederhana yang seharusnya bisa kita rasakan terlewatkan karena kita terlalu menyibukkan diri atas hal-hal besar yang terus diupayakan.

Tapi di balik sulit dan mudahnya bahagia, tentunya kita percaya bahwasanya Tuhan sudah memberikan porsi bahagia semampu kita. Entah lewat cara paling sederhana atau yang sulit sekalipun. Kita berhak memilih ingin bahagia yang seperti apa.

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi diri sebagai bentuk syukur

Repetisi dan Remedi

Aku Dan Titik Nol