HATI KITA SAMA


              oleh : Ernawati Hamjah
Kami terlahir ke dunia tanpa membenci siapa pun. Tapi tayangan-tayangan di televisi, iklan-iklan produk kecantikan, guru-guru kami, orangtua kami, dan orang-orang yang hidup lebih dulu telah mengajarkan kepada kami:⁣

Kulit putih lebih baik dari kulit hitam. Mata melotot lebih baik dari mata sipit. Rambut lurus lebih baik dari rambut keriting. Dan kami semua, beserta seluruh keturunan kami, lebih baik dari siapa pun.⁣

Sekolah jadi tempat kami belajar membenci. Kami lempar ejekan pada orang-orang yang kami panggil orang utan. Kami cerabut rambut mekar yang dikepang untuk memastikan apakah itu rambut asli. Kami jahili anak-anak toko kelontong yang matanya segaris seakan mereka tak mampu melihat kami.⁣

Lalu kami berpikir apa hebatnya membanggakan sesuatu yang tidak kami pilih? Pigmen kulit dan postur tubuh kan tidak bisa direvisi. Tidak ada orang Negro yang berhasil menyamar jadi orang Tionghoa. Cahaya matahari tidak mungkin tertukar. Timur dan Barat tidak bisa dipalsukan seperti mata uang.⁣

Menginjak dewasa, kami memilih segala sesuatu yang kami pikir paling baik. Menjadi muslim atau katolik. Menjadi pendukung Liverpool atau Manchester United. Mengusung nomor satu atau nomor dua.⁣

Kain yang melekat di badan jadi alat pukul rata. Apakah kami penghuni surga atau neraka? Akankah kami jadi penguasa dunia atau budak primitif yang tertinggal? Di dalam jubah panjang, cadar, kaos bola, kaos partai, jaket metal, hingga koteka, kami dihukumi prasangka.⁣

"Najis!"⁣
"Dasar teroris!"⁣
"Separatis!"⁣
"Kelakuan iblis!"⁣

Kami sudah pandai membenci. Inilah mungkin saatnya kami belajar mencintai. Cinta selalu dimulai dengan menghapus curiga dan menulisi pikiran yang terbuka dengan rasa percaya. Kami pejamkan mata dari segala simbol dan warna. Kami basuh mulut yang kotor dan durjana. Lalu kami biarkan akhlak kami saja yang bicara.⁣

Di antara semua yang beda di luar, jauh di dalam, ternyata hati kami sama bentuknya. Entah darah Minang, Jawa, Sunda, Papua, Cina, Eropa, kami anak-anak Adam dan Hawa. Entah sawo matang, kuning langsat, putih bersih, hitam legam, cokelat eksotis... kami manusia, makhluk Tuhan yang sempurna.⁣

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi diri sebagai bentuk syukur

Repetisi dan Remedi

Aku Dan Titik Nol